Mengapa
manusia mampu berujar?
Pada
dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang hidupnya tidak lepas dengan
berkomunikasi dengan manusia yang lain. Oleh sebabitu diperlukannya bahasa
sebagai alat komunikasinya. Bahasa keluar karena adanya ujaran dari manusia.
Manusia tidak serta merta bisa berujar begitu saja. Bunyi bahasa merupakan
hasil yang dibuat oleh alat ucap manusia seperti; pita suara, lidah, dan bibir.
Bunyi bahasa dibuat oleh manusia untuk mengungkapkan sesuatu. Bunyi bahasa ini
dapat terwujud dalam nyanyian atau dalam tuturan.Manusia dalam berujar
juga melalui tahap atau proses. Tujuan proses produksi ujaran adalah untuk
menghasilkan seperangkat bunyi yang digunakan untuk menyampaikan gagasan kepada
orang lain. Hal itu dilakukan dengan menggunakan rumus sintaksis dan fonologi
secara kompleks dan dengan secara terus-menerus menggunakan pertalian
bunyi-makna. Gagasan yang hendak disampaikan oleh penutur mengandung dua asas,
yaitu tujuan dan proposisi.
Dalam
pembahasan ini akan dijelaskan secara spesifikasi dari tema “Mengapa manusia
mampu berujar?”. Subtema dari tema besar tersebut adalah darimana ujaran
manusia itu berasal dan prosesnya bagaimana sehingga ujaran itu terjadi dan
manusia mampu berujar pada akhirnya. Djardjowidjojo
(2003:117), mendefinisikan, ”Proses dalam memproduksi ujaran dapat dibagi
menjadi empat tingkat: (1) tingkat pesan, di mana pesan yang akan disampaikan
diproses, (2) tingkat fungsional, di mana bentuk leksikal dipilih kemudian
diberi peran dan fungsi sintaktik, (3) tingkat posisional, di mana konstituen
dibentuk dan afiksasi dilakukan, dan (4) tingkat fonologi, di mana struktur
fonologi ujaran itu diwujudkan.”
Produksi bunyi bahasa dalam proses pembentukan bunyi bahasa
ada tiga faktor yang terlibat, yaitu : a) sumber tenaga (udara yang dihembuskan
oleh paru-paru), b) alat ucap yang dilewati udara dari paru-paru (batang
tenggorok, kerongkongan, rongga mulut dan rongga hidung), c) artikulator
(penghambat). Proses pembentukan bunyi bahasa dimulai dengan memanfaatkan
pernafasan sebagai sumber tenaganya. Pada saat kita mengeluarkan nafas,
paru-paru menghembuskan tenaga yang berupa arus udara. Arus udara itu dapat
mengalami perubahan pada pita suara. Arus udara dari paru-paru dapat membuka
kedua pita suara yang merapat hingga menghasilkan ciri-ciri bunyi tertentu.
Gerakan membuka dan menutup pita suara itu menyebabkan udara di sekitar pita
suara itu bergetar. Perubahan bentuk saluran suara yang terdiri atas rongga
faring, rongga mulut, dan rongga hidung menghasilkan binyi bahasa yang berbeda-beda.
Bunyi bahasa yang arus udaranya keluar melalui mulut disebut dengan bunyi oral,
sedangkan bunyi bahasa yang arus udaranya keluar dari hidung disebut dengan
bunyi sengau atau nasal. Adapun bunyi bahasa yang arus udaranya sebagian keluar
melalui mulut dan sebagian melalui hidung disebut dengan bunyi disengaukan atau
dinasalisasi (Hasan Alwi, dkk: 2005:48). Organ-organ tubuh yang kita yang
berperan dalam melakukan produksi bunyi bahasa, antara lain: Bibir (lip, labia), gigi (teeth, denta), langit-langit keras (hard palate, palatum), langit-langit lunak (soft palate, velum), gusi dalam
(alveola, alveolum),
lidah (tangue), rongga kerongkongan (pharynx), pangkal
Tenggorokan, paru-paru.
PERINCIAN PRODUKSI
UJARAN
Saat memproduksi ujaran, seseorang akan mulai merencanakan
yang berkaitan dengan topik yang akan diujarkan, kemudian turun ke kalimat yang
akan dipakai, dan diturunkan kembali ke konstituen yang akan dipilih. Setelah
itu, barulah dia masuk ke pelaksanaan dari yang akan diujarkan. Hal ini mencakup
rencana artikulasi dan bagaimana mengartikulasikannya.
Clark dan Clark mendefinisikan
prosedur ini, sebagaimana dikutip Djarwowidjodjo, sebagaimana di bawah ini:
a.
Wacana
Perencanaan
b. Kalimat
c. Konstituen
Produksi
a. Program artikulasi
Pelakasanaan
b. Artikulasi
secara
rinci, pelaksanan produksi itu merupaka suatu tindakan non biologis yang
dilakukan sebelum manusia melakukan ujaran atau memproduksi ujaran. Ha tersebut
penting dilakukan, disamping secara biologis manusia dapat berujar seperti yang
sudah dijelaskan sebelumnya, tetapi ujaran tersebut harus dikonsep atau
direncanakan dahulu agar maksud dan tujuan dapat tersampaikan kepada mitra
bicara.
Perencanaan Produksi Wacana
Wacana
dibagi menjadi dua macam (a) dialog dan (b) monolog. Perbedaan utama antara dua
macam ini terutama terletak pada tindak interaksi antara pembicara dengan
pendengar. Pada dialog terdapat paling tidak dua pelaku, yakni yang berbicara
dan yang diajak bicara, interlokutornya. Pada wacana monolog hanya terdapat
satu pelaku saja. Kalau wacana itu lisan, hanya ada satu pembicara; kalau
wacana tulis, hanya penulis sebagai pelakunya.
Perencanaan Produksi
Kalimat
Menurut Clark, sebagaimana dikutip
oleh Dardjowidjojo, terdapat tiga kategori yang perlu diproses: muatan
proposional (prpotional content), muatan ilokusioner dan struktur
tematik.
Pada muatan proposional pembaca akan mendapatkan pembicara menentukan
proposisi apa yang ingin dia nyatakan. Sedangkan pada muatan ilokusioner adalah
makna yang akan diwujudkan itu seperti apa. Di sinilah peran tindak ujar
muncul. Kemudian pada struktur tematik berkaitan dengan penentuan berbagai
unsur dalam kaitannya dengan fungsi gramatikal atau semantik dalam kalimat.
Perencanaan Produksi Konstituen
Setelah perencanaan kalimat selesai
dibuat, maka beralihlah pembicara pada tataran konstituen yang membentuk
kalimat tersebut. Di sinilah dipilihnya kata yang maknanya tepat seperti yang
dikehendaki. Seandainya referennya adalah seorang pria, maka kalau dia suka
dengan orang tersebut, maka pilihlah kata cah sregep. Sebaliknya, jika pembicara dalah pembenci
pria, yang mungkin dipilihnya adalah cah males. Dengan demikian, kalimat di bawah (a) dan
(b) merujuk pada referen yang sama.
(a)
lo, cah sregep teka.
(b) kuwi, cah males
turu.
Dari pernyataan-pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa darimana ujaran
manusia itu berasal dan prosesnya bagaimana sehingga ujaran itu terjadi dan
manusia mampu berujar pada akhirnya. Pada dasarnya ujaran manusia itu berupa
bunyi dan bunyi dihasilkan oleh organ pernafasan manusia. Proses pembentukan bunyi bahasa dimulai dengan
memanfaatkan pernafasan sebagai sumber tenaganya. Pada saat kita mengeluarkan
nafas, paru-paru menghembuskan tenaga yang berupa arus udara. Arus udara itu
dapat mengalami perubahan pada pita suara. Arus udara dari paru-paru dapat
membuka kedua pita suara yang merapat hingga menghasilkan ciri-ciri bunyi
tertentu. Gerakan membuka dan menutup pita suara itu menyebabkan udara di
sekitar pita suara itu bergetar. Perubahan bentuk saluran suara yang terdiri
atas rongga faring, rongga mulut, dan rongga hidung menghasilkan binyi bahasa
yang berbeda-beda. Bunyi bahasa yang arus udaranya keluar melalui mulut disebut
dengan bunyi oral, sedangkan bunyi bahasa yang arus udaranya keluar dari hidung
disebut dengan bunyi sengau atau nasal. Adapun bunyi bahasa yang arus udaranya
sebagian keluar melalui mulut dan sebagian melalui hidung disebut dengan bunyi
disengaukan atau dinasalisasi.

Komentar
Posting Komentar