“MENGAPRESIASI IRINGAN KETOPRAK”
“MENGAPRESIASI IRINGAN KETOPRAK”
Ketoprak
adalah salah satu budaya asli jawa. Pementasan ketoprak sekarang sudah jarang
dipentaskan. Hanya beberapa instansi atau lembaga-lembaga tertentu yang mau
ataupun sengaja mementaskan ketoprak. Misalnya pada hari kamis 13 desember 2012
di gedung pusat kebudayaan koesnadi hardjosoemantri (PKKH), Universitas Gajah
Mada mementaskan ketoprak dengan lakon “ DAMARWULAN WINISUDO”, yang merupakan
ketoprak gaya Mataram yang sudah digarap. Digarap dalam arti ini adalah
ketoprak yang ditambahi unsur-unsur kebudayaan sekarang dalam sektor apaun
dipementasan tersebut. Penambahan itu bisa berupa penambahan dalam iringan atau
dialog dalam ketoprak, sehingga ketoprak tersebut tidak begitu pakem dengan
gaya Mataraman. Hal ini dilakukan karena beberapa sebab, misalnya karena
ketoprak tersebut dimainkan oleh para pemain yang berlatarbelakang bukan orang
jawa, karena ketoprak yang dipentaskan pada tanggal 13 desember 2012 di PKKH
UGM tersebut dimainkan oleh dosen dan karyawan yang semuanya belum tentu
berbasik seniman ketoprak.
Sedangkan
para pengarwit yang mengiringi pementasan ketoprak tersebut juga dosen dan
karayawan, sehingga iringannya pun juga dibuat sesederhana mungkin, tetapi enak
untuk didengar dan cocok dengan situasi. Hal tersebut dapat dilihat ketika
adegan-adegan kaget, ketika adegan tersebut iringannya hanya playon mangu yang
digarap sesederhana mungkin terdiri dari 4 gatra dan 1 gongan suwuk saja. Gendhing-gendhing
playon juga garapan. Dimulai dari introduksi, iringan ketoprak ini terasa
garapannya, dan menaikkan suasana. Peralihan dari introduksi ke playon ditandai
dengan gangsaran 1, hal ini merupakan iringan yang sederhana dan pas saat
introduksi masuk ke dalam adegan pertama. Setiap perpindahan adegan atau adegan
perang, iringan yang digunakan ialah playon mangu. Pada saat-saat tertentu
disesegkan atau direp, fleksibel dengan situasi yang ada dalam ketoprak
tersebut. Selain iringan dengan kerawitan, ketoprak tersebut juga diiringi
dengan beberapa temabang-tembang.
Pada
ketoprak yang klasik atau ketoprak mataram, iringan-iringan tersebut jarang
dipakai, ketoprak yang bukan garap lebih menonjolkan unsur klasiknya. Misalkang
menggunakan playon nglasem atau pun tidak ada garap2 seperti introduksi dalam
ketoprak tersebut. Iringan krawitan dalam pementasan tersebut menggunakan
gamelan pelog slendro, dan pada playon mangu larasnya adalah slendro.
Sedangkang langgam-langgamnya banyak yang menggunakan laras pelog. Tidak hanya
itu saja, iringan selain playon juga kebanyakan menggunakan laras pelog. Pada
adegan Damarwulan urip, adegan ini diiringi playon garap laras pelog barang.
Iringan-iringan
tersebut umumnya ditujukan untuk mengangkat suasana dan harus disesuaikan
dengan suasana. Seandainya suasana sedih menggunakan iringan yang pean atau
dalam bahasa karawitan disebut irama 2 atau rep. Dalam ketoprak ini, biasanya
kalau suasana sedih menggunaka playon yang direp kemudia apabila menuju suasana
normal kembali di sesegkan kembali. Sedangkan pada saat adegan genting atau
perang menggunakan irama yang kencang dan keras. Dalam bahasa karawitan irama
ini dinamakan irama seseg, pada ketoprak ini iringan yang dimaksud berupa
iringan playon mangu yang disesegkan.
Ketoprak
ini juga menggunakan langgam-langgam campursari yang digunakan pada adegan
hiburan. Misalnya prahu layar, senggol-senggolan, ngidamsari. Iringan tersebut
membuat penonton juga bias berinteraksi berupa ikut bernyanyi. Sedangkan dalam
adegan raja di iringi monggang dan ada pula gamelan iringan bebas pada
adegan-adegan tertentu. Menjelang adegan-adegan akhir, digunakan playon pelog
barang. Hal itu seperti halnya dalam pementasan ketoprak atau wayangan pada
biasanya. Adegan buta-buta menggunakan playon mangu slendro yang dikuati dengan
irama kendhang yang menggambarkan suara gerakan buta.
Pada
adegan penutup atau akhir dari playon pelog barang diteruskan ke lancaran gugur
gunung yang dilengkapi dengan tembang. Selama pementasan ketoprak tersebut,
gamelan kompak walaupun kekuatan menabuhnya kurang bersemangat.

Komentar
Posting Komentar