resensi buku
Judul Buku : WAYANG (Kepribadian Luhur Jawa)
Tahun : 2010
Pengarang : Syafaruddin Usman MHD dan Isnawita Din
Penerbit : Cakrawala
Tebal Buku :107 Halaman
Buku yang ditulis oleh Syafarudidin
Usman MHD dan Isnawita Din ini membahas tentang seluk beluk wayang dan watak
karakter penokohan dalam wayang. Menurut buku ini,wayang adalah legenda yang
ternyata mempunyai peranan penting dalam mendidik dan mengembangkan pikiran
ataupun kepribadian dalam kehidupan, khususnya bagi generasi muda. Dengan
pementasan wayang di mana cerita yang diambil dari cerita- cerita epik besar
india Ramayana dan Mahabharata khususnya, menyampaikan nilai-nilai pemandu
kehidupan kepada masyarakat luas.
Diyakini, dengan mempelajari wayang
merupakan hal yang penting apabila ingin memahami orang jawa secara lebih
mendalam. Menurut orang jawa, seorang pemimpin harus alus atau berbudi luhur
,elegan, bertutur kata lembut, sopan,mudah beradaptasi dan sensitif, dengan
kekuatan dari dalam sehingga mampu memberi perintah secara tidak langsung dan
sopan, yang di permukaan tampak seperti merendahkan diri. Emosi-emosi
seperti kebahagiaan, kesedihan,
kekecewaan, kemarahan,penyerahan, harapan dan rasa kasihan tidak seharusnya
diperlihatkan didepan umum.
Buku ini selain untuk anda yang ingin
mengetahui lebih jauh tentang wayang sebagai kepribadian luhur jawa, juga bagi
yang ingin mengetahui lebih jauh watak atau karakter penokohan setiap tokoh
pada wayang. Ada beragam cerita wayang kulit yang disebut lakon. Bentuk wayang
yang populer di jawa adalah wayang kulit. Wayang-wayang yang terukir indah dari
kulit dan lakon-lakonnya diambil dari lingkaran klasik wayang purwa.
Lakon-lakon wayang,khusus nya wayang purawa diambil dari empat siklus yang
bahanya sebagian besar berasal dari india, mitos-mitos masa pada permulaan
kosmos yang mengenai para dewa, raksasa, dan manusia pada permulaan zaman.
Siklus Arjuna Sasrabahu yang memuat pendahuluan epos Ramayana.Siklus Ramayana,
dan siklus mahabharata. Di kalangan jawa siklus Mahabharata-lah yang populer.
Didalam buku ini dituliskan bahwa
tokoh-tokoh utama yang diperkenalkan oleh dalang pada perkenalan cerita yang
disertai suluk untuk mengungkapkan sifat dan perbuatan tokoh tersebut menurut
konsep tradisional yang biasanya sudah diketahui oleh para penontonnya. Namun
demikian, waktu dalang mengungkapkan, ternyata ada sifat-sifat tersenbunyi dan
kekurangan atau cela pada tokoh-tokoh ini, yang berkaitan dengan tugas dan
kewajibannya. Kalau sifat-sifat ini tidak diterangkan dalam narasi pembukaan,
mungkin juga akan muncul pada waktu pembeberan lakon itu. Ini kelihatannya
dilakukan oleh dalang supaya penonton memperhatikan tinjdakan tokoh-tokoh dalam
cerita itu sehingga mereka mendapatkan keterangan yang dapat
dipertanggungjawabkan.
Buku ini juga menjelaskan
konsep-konsep kehidupan seperti model hidup jawa, kepribadian, pemahaman
diri,isyarat sangkan-paran, manunggaling kawula-gusti, serta lakon bharatayuda
jayabinangun dan lakon Ramayana. Selain semua hal di atas, wayang dapat kita
apresiasikan segala seni yang terdapat di dalamnya. Banyak nilai seni yang ada
didalamnya, misalnya seperti seni rupa,seni tradisi, seni pertunjukan dan semua
itu sangat erat hubungannya dalam dunia pewayangan. Walaupun wayang adalah
budaya yang kuno, tetapi banyak nilai-nilai moral penting kehidupan yang
terkandung didalamnya dan beberapa unsure seni yang dapat menentramkan dan
menghibur hati kita.
Segala sesuatu ciptaan manusia didunia
ini pasti ada kelebihan dan kekurangaannya,termasuk buku ini.
Kelebihan-kelebihan buku ini adalah kita dapat mengetahui wayang dan seluk
beluk tentangnya, termasuk penokohan didalam wayang. Didalam buku ini, kita
juga dapat mengetahui nilai-nilai kehidupan yang ada pada wayang. Tidak hanya itu
saja, kita juga diperkenalkan dengan lakon-lakon yang ada didalam wayang.
Misalnya lakon bharatayuda jayabinangun dan lakon Ramayana. Selain semua
kelebihan diatas, buku ini juga mempunyai beberapa kekurangan seperti
penjelasan pada bab lakon dalam pewayangan yang terlalu singkat ,sehingga
pembaca kebingungan dalam mencermati maksud pengarang. Disamping itu, masih ada
kekurangan dalam bab pendahuluan menjelaskan asal usul wayang, di buku ini
penjelasan asal usul wayang kurang begitu jelas dan cenderung membingungkan.

Komentar
Posting Komentar